Kebudayaan Kalimantan Barat

UPACARA ADAT NAIK DANGO / GAWAI DAYAK

 ( Kalimantan Barat )

gawai dayak 2 Ngayau, tradisi penggal kepala suku Dayak_thumb[6]

Naik Dango atau Gawai Dayak merupakan Upacara adat masyarakat kalimantan Barat ( Dayak Kanayatn), yang dilakukan dari daerah Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak, hingga Kabupaten Sanggau. Gawai Dayak bukanlah peristiwa budaya yang murni tradisional, baik dilihat dari tempat pelaksanaan maupun isinya. Gawai Dayak merupakan perkembangan lebih lanjut dari acara pergelaran kesenian Dayak. Upacara adat Naik Dango yang merupakan sebuah upacara untuk menghaturkan rasa syukur terhadap Nek Jubata atau Sang Pencipta atas berkah yang diberikannya berupa hasil panen (padi) yang berlimpah. Upacara ini rutin dilaksanakan setiap tahun setelah masa panen . Upacara adat syukuran setelah panen ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak dengan nama berbeda-beda. Orang Dayak Hulu menyebutnya dengan Gawai, di Kabupaten Sambas dan Bengkayang disebut Maka‘ Dio, sedangkan orang Dayak Kayaan, di Kampung Mendalam, Kabupaten Putus Sibau menyebutnya dengan Dange.

Upacara adat Naik Dango ditandai dengan menyimpan seikat padi yang baru selesai di panen di dalam dango (lumbung padi) oleh setiap kepala keluarga masyarakat Dayak yang bertani/ berladang. Padi yang disimpan di dalam Dango nantinya akan dijadikan bibit padi untuk ditanam bersama-sama dan sisanya menjadi cadangan pangan untuk masa-masa paceklik. Selanjutnya, menimang padi dan diikuti dengan pemberkatan padi oleh ketua adat.

Upacara Naik Dango ini terdiri dari 4 kegiatan utama, diantaranya :

  1. Berjuluk Batutuk
  2.   Acara Matik
  3.  Nyangahathn
  4. Kunjungan Rumah Tetangga atau Kerabat

1. Berjuluk Batutuk

Berjuluk Batutuk merupakan kegiatan pertama dari upacara naik dango, berjuluk batutuk merupakan  suatu  kegiatan menumbuk padi dalam lesung untuk mendapatkan beras, tepung beras (sunguh) atau beras ketan (poe’) untuk persiapan ritual makan bersama atau sesaji.

2. Acara Matik

Matik merupakan kegiatan kedua upacara naik dango, kegiatan ini dilaksanakan setelah  setelah kegiatan Berjuluk Batutuk.  Matik merupakan kegiatan mengucapkan doa untuk menyampaikan maksud dan niatan kepada Nek Jubata agar memberi restu pada pelaksanaan upacara Naik Dango. Pada kegiatan ini disajikan juga perangkat adat berupa Tumpi Sunguh (cucur putih), Solekng Poe” (ruas bambu berisikan ketan masak), hingga Sirih Masak (daun sirih, pinang siap kunyah dan gulungan rokok daun nipah).

3. Nyangahathn

Nyangahathan merupakan acara inti dari upacara naik dango. Nyangahathn merupakan suatu kegiatan melantunkan doa dan mantra-mantra oleh Panyangahatn (imam adat) untuk memanggil semangat padi, sebagai ucapkan syukur kepada Tuhan atas anugerah yang diberikannya berupa panen padi sampai memohon ampun kepada Nek Jubata atas dosa, dan kesalahan. Serta meminta agar diberikan kesejahteraan pada tahun yang akan datang.

4. Kunjungan Rumah Tetangga atau Kerabat

Acara ini biasanya dilakukan setelah acara Nyangahathn. Kegiatan kunjungan ini merupakan ritual penutup dari upacara  naik dango. Setelah melakukan acara Nyangahathan  para peserta upacara akan saling mengunjungi rumah kerabat dan tetangga. Pada acara kunjungan ini disajikan kudapan atau penganan berupa poe atau salikat (lemang atau pulut yang terbuat dari beras ketan yang ditanak di dalam batang bambu), tumpi cucur (campuran tepung terigu dan tepung beras yang diaduk dengan gula merah dan digoreng), Bontonkng (berbahan baku beras sunguh/beras lading-Bontonkng Sumuh dan yang berbahan dasar beras pulut ladang alias Bontonkng Poe’).

ex_thumb[6]lemang_thumb[13]gwd

                        Kue Tumpi                                                                                Kue Lemang                                             Panganan-panganan naik  dango

Asal-muasal Kegiatan Naik Dango

Naik Dango sendiri bermula dari mitos asal mula padi mashyur diantara orang Dayak Kalimantan Barat lewat kisah Ne Baruankng Kulup. Cerita tersebut diawali dengan asal mula padi milik Jubata di Gunung Bawang yang dicuri oleh burung pipit. Padi tersebut kemudian jatuh ke tangan Ne Jaek yang sedang mengayau alias memenggal. Akibat hanya membawa setangkai padi dan bukan kepala, maka Ne Jaek pun menuai ejekan.

Keteguhan Ne Jaek yang ingin membudidayakan padi tersebut menyebabkan pertentangan di sukunya yang berimbas pada diusirnya Nenek Jaek dari kampungnya. Dalam pengembaraannya, dia bertemu dengan Jubata dan lalu menikah. Perkawinan tersebut menghasilkan Ne Baruankng Kulup yang akhirnya membawa padi kepada “Talino” (manusia) akibat senang turun ke dunia untuk bermain Gasing. Hal tersebut membuat Ne Baruankng Kulup diusir dari Gunung Bawang dan kemudian menikah dengan manusia. Dial ah yang mengenalkan padi (beras) untuk menjadi makanan utama manusia menggantikan Kulat (jamur).

Namun, untuk memperoleh padi terjadi tragedi pengusiran di lingkungan keluarga manusia dan jubata yang menunjukkan kebaikan hati Jubata bagi manusia. Fungsi padi dan kemurahan jubata inilah yang menjadi dasar upacara Naik Dango. Dalam bentuknya yang tradisional, pelaksanaan upacara pascapanen ini dibatasi di wilayah kampung atau ketimanggungan.

Hakikat dari Acara Naik Dango

Pada hakekatnya, upacara Naik Dango memiliki tiga aspek. Aspek tersebut antara lain :

  • Aspek kehidupan masyarakat agraris di mana masyarakat Dayak mengungkapkan tradisi bercocok tanam dengan padi sebagai panen utamanya.
  • Aspek kedua adalah aspek kehidupan religious. Lewat Naik Dango, masyarakat Dayak mengekspresikan rasa syukur, terima kasih dan hormat kepada Tuhan atas panen yang mereka peroleh.
  • Aspek yang terakhir adalah aspek kekeluargaan, solidaritas dan persatuan. Penyelenggaraan Naik Dango secara serentak dalam wilayah kesatuan hukum adat (binua) merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar keluarga khususnya dan masyarakat Dayak umumnya.

Dalam upacara ini banyak nilai-nilai positif yang dapat dipetik dalam membangun kehidupan spritual dan sosial. Upacara ini bisa menumbuhkan semangat kebersamaan, motivasi untuk mencintai dan menghargai budaya sendiri serta meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat yang dihasilkan lewat bisnis jasa dan usaha wisata,” tutur Cornelis.

Masyarakat Dayak, keberhasilan dan kegagalan dalam berladang sangat tergantung pada usaha manusia dan pertolongan Jubata atau Tuhan Yang Maha Kuasa. “Karakteristik warisan budaya leluhur itu, apabila mampu diolah dan dikemas dengan baik, antara lain berupa pembangunan jiwa dan raga manusia yang seutuhnya, serta bermanfaat sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” papar Cornelis lagi.

Acara ini diadakan setiap tahunnya di halaman Rumah Betang (Rumah Adat Suku Dayak) yang sekaligus menampilkan berbagai macam seni budaya serta aneka macam hasil kerajinan khas suku dayak yang tidak kalah Eksotisnya, seperti :
Lomba pemilihan Bujang dan Dara Suku Dayak
Lomba menyumpit
Melukis perisai (Tameng)
Memahat patung tradisional
Tari-tarian adat Suku Dayak
Menganyam manik-manik
Menumbuk dan menampik
Membuat kue tradisional
Menganyam bakul dengan bahan-bahan seperti rotan, kulit kayu dan daun bengkoang.
parade2
menganyam-manik
                               Menganyam Manik
               Pemilihan Bujang Dare Dayak
65
                          Tas Manik